Minggu, 22 Juni 2014

Individu Masyarakat dan Negara



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setiap orang dilahirkan sebagai makhluk individu  yang kemampuan dan kebutuhan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Untuk memenuhi kebutuhannya, ia tidak bisa berdiri sendiri, ia membutuhkan orang lain. Setiap individu dalam masyarakat mempunyai kedudukan dan peranan yang berbeda, sehingga memungkinkan untuk saling bekerja sama, saling membentuk, saling mendukung untuk mencapai tujuan yang sama. Individu senantiasa berhubungan dengan individu lainnya. Dalam melakukan hubungan tersebut mereka saling pengaruh-mempengaruhi dan saling menyesuaikan diri sehingga timbul proses  sosial. Proses sosial yang terus berlanjut dan teratur akan menyebabkan perubahan sosial budaya dalam kelompok.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian individu dan masyarakat?
2.      Apa sajakah Status dan Peran Individu dalam masyarakat?
3.       jelasakan apa Struktur, Pranata dan Proses Sosial Budaya itu?

1.3 Tujuan masalah
1.      Dapat memahami pengertian individu dan masyarakat
2.       Dapat mengetahui status dan peran individu dalam bermasyarakat
3.       Dapat memahami struktur,pranata dan proses social budaya






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Individu dan Masyarakat
Setiap orang adalah khas menjadi dirinya sendiri. Setiap orang dilahirkan sebagai makhluk individu, individu merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyebut suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Untuk menyebut individu sering digunakan sebutan “orang seorang” atau” manusia perseorangan” Sebagai individu, manusia merupakan suatu sistem yang terdiri atas system jasmani dan system rohani. Proses pembentukan individu menjadi pribadi dipengaruhi faktor pembawaan dan faktor lingkungan. Faktor pembawaan yang dia miliki berupa potensi fisik-biologis dan potensi mental psikologis. Kedua potensi ini dibawa seseorang sejak lahir, faktor lingkungan pun memberikan pengaruh besar bagi perkembangan pribadi seseorang. Jika Anda perhatikan secara seksama, apakah ada manusia sebagai individu yang bisa hidup sendiri sejak lahir tanpa ada bantuan manusia lainnya. Tentu jawabannya tidak. Manusia membutuhkan pertolongan orang lain untuk bisa bertahan hidup. Manusia sudah besar atau dewasapun,  tidak bisa mencukupi semua kebutuhan hidupnya oleh diri sendiri. Ia membutuhkan orang lain dengan saling ketergantungan, jadi seorang manusia berkedudukan bukan hanya sebagai makhluk individu, melainkan juga sebagai makhluk sosial karena individu hidup dalam suatu masyarakat, baik dalam lingkungan masyarakat kecil maupun masyarakat luas.
Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengetahui diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai satu kesatuan.
A.    Individu 
1.Manusia selaku individu.
Individu adalah seseorang atau seorang manusia secara utuh, Utuh di sini diartikan sebagai suatu sifat yang tidak dapat dibagi-bagi. Merupakan  satu kesatuan antara jasmaniah dan rohaniah yang melekat pada diri seseorang. Setiap individu mempunyai ciri khas yang berbeda dengan individu  lainnya, seperti bentuk fisik, kecerdasan, bakat, keinginan, perasaan dan memiliki tingkat pemahaman atau arti tersendiri terhadap suatu objek. Jadi individu adalah kondisi internal dari seorang manusia yang berfungsi sebagai subjek.
Manusia selaku individu mempunyai 3 naluri yaitu:
a.  Naluri untuk mempertahankan kelangsungan hidup
b.  Naluri untuk mempertahankan kelanjutan penghidupan keturunan dan
c.  Naluri ingin tahu dan mencari kepuasan.

a)      Naluri mempertahankan kelangsungan hidup
Naluri untuk mempertahankan hidup telah menimbulkan berbagai kebutuhan. Salah satu kebutuhan yang paling mendasar adalah kebutuhan fisiologis yang terdiri dari makan,minum dan perlindungan. Semua kebutuhan tersebut didapat dari lingkungan di mana manusia tinggal, dan dalam memanfaatkan lingkungan tersebut membutuhkan teknologi. Teknologi dapat diartikan sebagai cara-cara atau alat yang dipergunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi teknologi tidak hanya mencakup peralatan modern atau mesin saja. Panah untuk berburu, bertani berpindah-pindah dan alat atau cara sederhana lain termasuk ke dalam teknologi Kebutuhan manusia  sangat beragam dan kebutuhan ini lebih mudah dipenuhi kalau individu hidup berkelompok dengan individu lainnya.
a)      Naluri mempertahankan kelanjutan penghidupan keturunan
Naluri untuk mempertahankan keturunan, menuntut adanya kebutuhan akan rasa aman (safety need) baik dari gangguan cuaca yang tidak nyaman binatang liar atau manusia lain. Pakaian yang dibuat dari berbagai jenis bahan dan model disesuaikan dengan kondisi cuaca. Perumahan dengan bermacam-macam bahan dan juga bentuk, pada dasarnya adalah usaha untuk memperoleh rasa aman dari berbagai gangguan. Adapun keanekaragaman bahan dan model yang dipergunakan sangat tergantung pada lingkungan. Seperti rumah di daerah tropis umumnya dibuat dari kayu atau bambu dengan model atap segitiga atau kerucut dan seringkali bawahnya tidak langsung menyentuh tanah, tapi bertonggak atau berkolong. Di iklim sedang rumah banyak dibangun dari bata atau tanah, atapnya rata atau datar, sedangkan di daerah dingin orang Eskimo membuat rumah dari es dengan bentuknya yang bulat saja. Semua itu sangat tergantung pada Cuaca yang ada di lingkungannya. Perkawinan selain untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia, juga merupakan cerminan dari adanya ketergantungan individu terhadap individu lain dan adanya naluri untuk meneruskan keturunan.
b)      Naluri ingin tahu dan mencari kepuasan
Setiap manusia mempunyai naluri untuk ingin tahu tentang sesuatu yang ada di sekitarnya, baik itu lingkungan alam maupun lingkungan manusia lainnya. Adanya perbedaan alam seperti dataran, perbukitan, pegunungan.perbedaan penyebaran tumbuhan dan hewan.perbedaan fisik manusia seperti ada yang berkulit hitam, putih sawo matang, berbadan jangkung, pendek dan sebagainya perbedaan budaya manusia seperti dalam hal cara makan ada yang makan pakai tangan, sendok, sendok garpu dan pisau.perbedaan dalam berpakaian. mata pencaharian. bentuk rumah dan sebagainya. Semua itu telah mendorong manusia untuk mencari tahu Pertanyaan “apa, mengapa, bagaimana dan siapa” sehingga menghasilkan sistem pengetahuan. yang kemudian disusun menjadi sistematis melalui aturan-aturan tertentu sehingga melahirkan ilmu pengetahuan. ilmu pengetahuan ini pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan spiritual atau batin manusia. Sedangkan penerapan ilmu pengetahuan dalam bentuk cara dan alat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia disebut teknologi. Jaditeknologi adalah berbagai cara atau alat untuk memenuhi kebutuhan material manusia. Keduanya tidak dapat dipisahkan untuk menunjang dan memenuhi kebutuhan manusia baik selaku individu maupun masyarakat. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki individu tidak seluruhnya hasil dari pengalaman sendiri, tapi lebih banyak dari belajar dan meniru dari orang lain. Karena itu dalam memenuhi naluri ingin tahu darimencari kepuasanpun tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kelompok.



2. Manusia selaku makhluk sosial
Walaupun individu adalah satuan yang berdiri sendiri dan memiliki kemampuan serta kebutuhan yang tersendiri pula, namun dalam usaha memenuhi kebutuhan dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya tidak dapat sendiri. Ia selalu membutuhkan individu lain. Ketergantungan individu terhadap individu lain sangat tinggi. Sejak ia dilahirkan sampai meninggal membutuhkan bantuan orang lain. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat dengan segera menyesuaikan diri dengan lingkungannya. manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk dapat berdiri dan mencari makan sendiri. .Pada masa bayi sepenuhnya manusia tergantung kepada individu lain. Ia belajar berjalan, belajar makan, belajar berpakaian belajar membaca, belajar membuat sesuatu dan sebagainya, memerlukan bantuan orang lain yang lebih dewasa. Semakin sering dan rajin belajar semakin berkembang kemampuannya. Semakin pintar, ketergantungan individu terhadap seseorang semakin berkurang, tapi bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Karena sepintar apa pun manusia pada dasarnya tidak bisa memenuhi segala kebutuhan dengan cara memproduksi sendiri. Misalnya dia pandai bertani menghasilkan padi, tapi tidak bisa membuat baju, membuat rumah, atau peralatan lain Padahal ia membutuhkan kain baju, minuman, perumahan dan alat lainnya. Dengan kepandaiannya itu ia menjual dan membeli keperluan hidupnya dari orang lain. Timbul pertukaran barang dan  jasa. Berarti dalam kehidupan manusia saling tergantung antara individu yang satu dengan individu yang lainnya.
Malinowski (1949), salah seorang tokoh ilmu Antropologi dari Polandia menyatakan bahwa ketergantungan individu terhadap individu lain dalam kelompoknya dapat terlihat dari usaha-usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan sosialnya yang dilakukan melalui perantaraan kebudayaan. Seperti manusia membutuhkan makanan, maka ia memerlukan pengetahuan tentang alat-alat yang dipergunakan untuk memperoleh makanan. Dalam hal ini sistem pengetahuan diperlukan. Sistem pengetahuan ini tidak seluruhnya hasil pengalaman sendiri, tapi perlu pula belajar dan mencontoh atau meniru dari orang lain yang lebih dulu tahu Kemampuan meniru dan belajar ini adalah kemampuan khas manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Dengan belajar dan meniru, ia dapat menghasilkan berbagai alat yang berdaya guna dan berhasil guna tinggi.
Manusia adalah makhluk sosial. Sosial berasal dari kata socius yang artinya kawan. Dalam hidup dan perkembangannya, baik langsung ataupun tidak, manusia membutuhkan karya dan jasa orang lain. Manusia mempunyai emosi atau perasaan dan perasaan ini perlu ditanggapi atau direspon oleh orang lain. Seperti rasa suka, duka, senang, disukai, rasa memiliki, kasih sayang, marah, dan sebagainya. Manusia baru mempunyai makna atau arti dalam hidup kalau Ia hidup berkelompok dengan orang lain.
B.     Masyarakat
1. Pengertian Masyarakat
Masyarakat, dalam Bahasa Inggris disebut society artinya sekelompok manusia yang hidup bersama, saling berhubungan dan mempengaruhi, saling terikat satu sama lain. Pengertian sekelompok manusia di sini, tidak mempunyai batas yang jelas harus berapa orang tapi jumlahnya minimal harus 2 orang.
Ralph Linton (1957) seorang ahli antropologi, mengartikan masyarakat sebagai kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang telah dirumuskan dengan jelas. Selanjutnya Selo Sumardjan seorang sosiolog Indonesia mengartikan masyarakat sebagai orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
Anderson dan Parker (Astrid Susanto 1977) menyebutkan secara rinci bahwa masyarakat adalah sebagai berikut.
1)  Adanya sejumlah orang.
2)  Tinggal dalam suatu daerah tertentu.
3)  Mengadakan hubungan satu sama lain.
4)  Saling terikat satu sama lain karena mempunyai kepentingan bersama.
5)  Merupakan suatu kesatuan sehingga mereka mempunyai perasaan
solidaritas.
6)  Adanya saling ketergantungan.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat
merupakan kumpulan individu-individu yang telah cukup bergaul
mengikuti tata cara yang sama sehingga merupakan satu kesatuan.
Ä  Berdasarkan tempat tinggal kita mengenal masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan. Perbedaan antara perkotaan dan pedesaan dapat dilihat dari:
1)  Penggunaan lahan: 
a)  Pedesaan : sebagian besar untuk pertanian
b)  Perkotaan:  sebagian besar untuk bangunan
2)  Jumlah dan kepadatan penduduk:
a)  Pedesaan : relatif sedikit dan jarang kepadatannya.
b)  Perkotaan : penduduknya banyak dan kepadatannya tinggi.
3)  Pendidikan dan keterampilan penduduk:
a)  Pedesaan : relatif rendah dan sama.
b)  Perkotaan : relatif tinggi, keterampilan beragam.
4)  Kontak sosial
a)  Pedesaan  :  bersifat langsung (face to face) dan terbatas.
b)  Perkotaan :  banyak yang bersifat tidak langsung dan tinggi.
 5)  Hubungan sosial
a)  Pedesaan : primer artinya akrab,saling mengenal/silaturrahmi
b)  Perkotaan : sekunder artinya berdasarkan kepentingan
Menurut Soejono Soekanto (1987) beberapa ciri masyarakat perkotaan yang menonjol adalah:
1)  kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan pedesaan Hal ini disebabkan adanya cara berpikir yang rasional
2)  pembagian kerja lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata 
3)  kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan lebih banyak diperoleh dari pada warga desa
4)  jalan pikiran yang rasional menyebabkan interaksi sosial berdasar
kepentingan dari pada faktor pribadi.
2.2  Status dan Peran Individu dalam masyarakat
Setiap individu dalam masyarakat mempunyai peran dan kedudukan (status) yang berbeda. Mengingat setiap individu mempunyai kepentingan yang beragam, maka setiap individu dapat berstatus dan berperan di beberapa kelompok sesuai dengan
kepentingannya itu. Contoh dalam keluarga terdapat ayah, ibu dan anak. Ayah mempunyai status sebagai kepala rumah tangga, karena itu ia dituntut untuk berperan sebagai pemimpin dalam rumah, seperti ayah bagi anak-anak, pencari nafkah dan seperangkat perilaku lainnya yang melekat dengan sifat ayah yang baik. Di kantor, ayah berfungsi sebagai karyawan biasa, berarti Ia mempunyai pemimpin dan ayah harus taat dan patuh terhadap aturan-aturan yang dibuat oleh pimpinan kantornya. Selain itu ayah di masyarakat berstatus pula sebagai ketua RW berarti ia harus membimbing, mengarahkan, membina setiap warga RW yang dipimpinnya.
Setiap individu harus berperilaku atau berperan sesuai dengan
Kedudukannya.Dalam kehidupan sehari-hari setiap orang mempunyai peran dan tugas yang berbeda. Tugas seorang dokter berbeda dengan guru, petani, supir atau ABRI. Tapi masing-masing saling membutuhkan, saling bekerja sama untuk capai tujuan yang sama yaitu terpenuhinya kebutuhan dan mencapai kesejahteraan. Dengan Demikian peran dan kedudukan sangat penting untuk menjaga keseimbangan dan integritas sosial. Contohnya bila guru, petani, dokter tidak melaksanakan peranannya dengan baik, maka akan terjadi
penyimpangan dan goncangan-goncangan yang dapat mengganggu kestabilan hidup bermasyarakat.
§  Kedudukan seseorang dalam masyarakat ada 2 macam: 
1)  Ascribed status, yaitu kedudukan yang diperoleh tanpa melalui  perjuangan atau usaha sendiri. Biasanya diperoleh melalui kelahiran, seperti seorang anak yang bergelar raden, otomatis anaknya juga bergelar raden. Status ini sering pula disebut sebagai status yang tertutup, karena setiap orang tidak bisa menjadi anggota secara bebas. Perkawinan biasanya adalah cara untuk masuk ke dalam status ini.
2)    Achieved status, yaitu kedudukan yang diperoleh melalui usaha atau perjuangan sendiri. Seseorang menjadi Direktur sebuah perusahaan karena memang ia rajin dan ulet. Status ini bersifat
terbuka artinya setiap orang dapat mencapainya atau meraihnya karena kemampuan masing-masing individu dalam berprestasi.
Ø  Selain 2 macam kedudukan tersebut, ada juga kedudukan yang diberikan pada seseorang karena jasa-jasanya, yaitu:Assigned-Status.Setiap status dan kedudukan mempunyai seperangkat simbol atau lambang yang dapat mencerminkan statusnya. Seperti orang yang berstatus ekonomi tinggi tercermin dari bentuk dan luas rumah, seseorang dari golongan ningrat akan tampak dari cara berbicara dan sopan santunnya. Banyak simbol yang dapat mencerminkan status atau kedudukan seseorang dalam masyarakat. Dengan demikian status dapat disebabkan oleh posisinya dalam pekerjaan dan pendidikan.

2.3 Struktur, Pranata dan Proses Sosial Budaya
Masyarakat merupakan suatu sistem hidup bersama dimana mereka menciptakan nilai, norma, dan kebudayaan bagi kehidupan mereka.
A.  Struktur Sosial Budaya
masyarakat merupakan suatu sistem sosial budaya, artinya terdiri dari sejumlah orang yang berhubungan secara timbal balik melalui budaya tertentu. Mereka saling pengaruh mempengaruhi dengan mempergunakan norma yang sama untuk mencapai tujuan yang sama pula. Sistem terdiri dari berbagai unsur, komponen atau perilaku yang saling terkait satu sama lain sehingga membentuk satu kesatuan.Pola perilaku dari setiap individu dalam masyarakat yang bersusun sebagai suatu sistem disebut struktur social. Struktur asal kata dari structum yang artinya menyusun membagi atau mendirikan. Contoh di sekolah terdapat struktur sebagai berikut ada kepala sekolah, guru-guru, murid, pegawai administrasi, dan penjaga
sekolah. Semua orang yang ada di sekolah  tersebut saling berinteraksi, saling berhubungan dan saling mempengaruhi  sehingga sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat berfungsi dengan baik.  Kalau salah satu unsur dari sekolah tersebut tidak ada misalnya guru, maka proses pendidikan tidak dapat berjalan dengan baik. Di sekolah juga mempunyai norma, misalnya murid harus datang pukul 7.00, harus memakai seragam dan sepatu yang telah ditentukan, dan sebagainya.
Dalam sistem sosial selalu berhubungan dengan peran dan kedudukan (status). Kepala sekolah, guru, murid dan pegawai administrasi di atas, mempunyai kedudukan yang berbeda, karena itu tugas dan peran yang harus dilakukannya pun berbeda pula, tetapi merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dalam memperlancar proses belajar mengajar di sekolah. Setiap individu mempunyai ciri dan kemampuan tersendiri seperti, bentuk fisik, bakat, minat kemampuan berpikir dan berkarya. Perbedaan ini menyebabkan timbulnya perbedaan social. Perbedaan sosial bersifat universal artinya dimiliki oleh setiap masyarakat dimanapun.  Hanya bentuk dan derajatnya saja yang berbeda. Selain itu perbedaan sosial dapat pula disebabkan oleh perbedaan agama seperti Islam, Kristen, Hindu, dan Budha; perbedaan suku seperti suku Sunda,Batak, Minangkabau dan sebagainya.
Perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat seringkali menunjukkan lapisan-lapisan yang bertingkat. Lapisan-lapisan yang bertingkat ini disebut dengan stratifikasi sosial. Ukuran yang dipergunakan untuk menggolongkan penduduk dalam lapisan-lapisan tertentu adalah:
1)  Ukuran kekayaan, timbul golongan kaya atau ekonomi kuat, golongan miskin atau ekonomi lemah, dan golongan tengah atau sedang. Pada masyarakat petani, luas pemilikan lahan menjadi ukuran utama timbul tuan tanah, penyewa dan buruh tani. Pada masyarakat  seringkali tampak dalam kekayaan berupa material seperti luas dan bentuk rumah, mobil, pakaian, dan gaya hidup.
2)  Ukuran kekuasaan, timbul golongan penguasa dan yang dikuasai. Mereka yang termasuk kelompok penguasa menjadi kelompok teratas dan biasa wewenangnya pun menjadi Iebih tinggi. 
3)  Ukuran kehormatan, timbul golongan yang berpengaruh dan dihormati dan golongan yang terpengaruh biasanya ukuran ini umumnya terdapat pada masyarakat tradisional, di mana pimpinan informal masyarakat mendapatkan kedudukan yang tinggi di masyarakat, seperti para Kyai, kepala adat dan sebagainya.
4)  Ukuran ilmu pengetahuan: timbul golongan cendekiawan dan masyarakat biasa. Dalam hal ini yang menjadi ukuran adalah kepintaran atau kemampuan menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu, seperti seorang sarjana lebih dihargai daripada yang berpendidikan SMA, atau yang berpendidikan SMA lebih dihargai daripada SD.
Seorang individu mungkin saja memiliki beberapa peluang sehingga semakin memperkokoh dia berada dalam lapisan tertentu. Misalnya seorang penguasa memungkinkan ia untuk mempunyai kekayaan yang banyak dan memungkinkan pula untuk sekolah ke jenjang yang paling tinggi. Sehingga ia mempunyai beberapa ukuran yang dapat memperkokoh kedudukannya dalam lapisan teratas. Sebaliknya orang yang tidak mempunyai pengetahuan, sulit untuk
mendapatkan pekerjaan yang berpendapatan besar, apalagi menjadi penguasa, sehingga ia miskin. Dengan demikian ukuran pelapisan sosial dapat sifat tunggal, dapat pula bersifat jamak. Dasar dari pelapisan sosial di atas dapat timbul dan berkembang secara otomatis atau tidak disengaja oleh masyarakat. Selain itu ada pula pelapisan sosial yang memang sengaja dibuat. Misalnya dalam organisasi, perusahaan instansi pemerintah dibuat strata-strata. Ada ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, ketua seksi, dan anggota. Penyusunan ini dibuat dengan maksud:
1)  Mengatur tugas dan wewenang.
2)  untuk mendorong meningkatkan produktivitas karena setiap Individu ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan keterampilan dan keahliannya.
3)  Lebih memudahkan pencapaian tujuan bersama. 
Dengan demikian pelapisan sosial selalu berkaitan dengan peranan dan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Setiap orang diharapkan berperan sesuai dengan kedudukannya sehingga timbul kerja sama yang saling menguntungkan. Karena itu pula maka pelapisan sosial diperlukan selama hak dan kewajiban setiap orang dalam tiap lapisan diterima secara seimbang dan adil.



Ada dua sifat pelapisan sosial yang berkembang di masyarakat.
1)  Bersifat tertutup (closes social stratification) yaitu tiap anggota tidak
dimungkinkan untuk pindah lapisan baik ke atas maupun ke bawah. Satu-satunya jalan untuk masuk ke dalam lapisan ini adalah melalui kelahiran dan perkawinan. Contoh lapisan tertutup ini adalah sistem kasta.
2)  Bersifat terbuka (oven social stratification) setiap anggota masyarakat  mempunyai kesempatan untuk masuk dan keluar pada tiap lapisan. Contoh berdasarkan kekayaan dan kekuasaan.
B.  Pranata sosial budaya
Pranata sosial berasal dari istilah Inggris social institution Istilah  social institution  ini diterjemahkan secara berbeda-beda oleh para ahli ilmu sosial di Indonesia, ada yang mengartikannya sebagai lembaga kemasyarakatan (Selo Soemardjan dan Soemardi, 1964; Soerjono Soekanto, 1982), pranata sosial (Koentjaraningrat, 1985). Istilah yang akan digunakan di sini adalah pranata sosial, karena  social institution  menunjuk pada adanya unsur-unsur yang mengatur perilaku para
anggota masyarakat.
Menurut Koentjaraningrat pranata sosial adalah satu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada. aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto (dengan menggunakan istilah lembaga kemasyarakatan) adalah himpunan dari norma-norma dari segala tindakan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat.
Pranata sosial dalam pengertian ilmu sosial tidaklah sama persis dengan istilah lembaga dalam arti wadah atau badan. Pranata sosial pada dasarnya bermula dari adanya kebutuhan-kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi. Pemenuhan-pemenuhan kebutuhan tersebut perlu dalam keteraturan, sehingga akhirnya diperlukan adanya norma-norma yang menjamin keteraturan tersebut. Norma-norma tersebut akhirnya berkembang menjadi pranata sosial, yang pada dasarnya diciptakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia itu.
Kebutuhan manusia sangatlah beraneka ragam, sehingga pranata sosial yang mendukungnya pun beraneka ragam pula. Manusia juga memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan Tuhannya, maka lahirlah pranata agama. Pranata-pranata yang ada di bidang agama ini misalnya Mesjid, zakat, wakaf, gereja, dan sebagainya. Kebutuhan manusia lainnya, misalnya di bidang pendidikan, maka melahirkan pranata pendidikan yang dapat berwujud dalam bentuk sekolah dasar, sekolah lanjutan, sekolah menengah, universitas, pondok pesantren, madrasah, dan sebagainya. Kebutuhan untuk mendapatkan dan mendistribusikan barang (sandang, pangan, jasa, dll) merupakan dasar bagi lahirnya pranata ekonomi. Kebutuhan di bidang politik akan melahirkan pranata politik yang berkaitan dengan pengaturan penggunaan kekuasaan. Pranata politik ini akan berkaitan dengan pranata negara, pemerintah, parlemen, desa dan sebagainya.
Dari uraian di atas, anda dapat menemukan beberapa contoh pranata sosial, misalnya : pranata keluarga, pranata agama, pranata ekonomi, pranata pendidikaan pranata politik, dan sebagainya. Banyaknya pranata sosial dalam masyarakat tergantung dari Kompleksitas masyarakat. Semakin kompleks suatu masyarakat, maka semakin banyak kebutuhannya, berarti semakin banyak pula pranata sosialnya. Fungsi pranata sosial yang dibentuk oleh masyarakat dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok manusia, mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut:
1)  Memberikan pedoman pada anggota-anggota masyarakat bagaimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap di dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat yang bersangkutan
2)  Menjaga keutuhan dari masyarakat yang bersangkutan
3)  Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social control) yaitu sistem pengawasan dari masyarakat terhadap tingkah laku anggota-anggotanya.




C.  Proses sosial budaya
Manusia senantiasa saling berhubungan dengan manusia lain atau melakukan kontak sosial. Hubungan antarindividu yang saling mempengaruhi dalam hal pengetahuan, sikap dan perilaku disebut interaksi sosial. Interaktif sosial dapat terjadi antarindividu, individu dengan kelompok, dan antarkelompok. Dua orang yang saling bercakap-cakap adalah contoh interaksi antara individu dengan
individu. Guru sedang mengajar di depan kelas adalah contoh interaksi individu dengan kelompok, sedangkan dua kelompok siswa sedang berdiskusi adalah contoh interaksi kelompok dengan kelompok. Komunikasi tidak selamanya dalam bentuk langsung atau tatap muka (face to face) seperti berbicara atau bersalaman. Ada pula komunikasi tidak langsung yaitu melalui perantara seperti surat, telepon, surat kabar, televisi atau radio. Perantara itu disebut sebagai media
komunikasi. Jadi interaksi sosial terjadi apabila tindakan atau perilaku seseorang dapat mempengaruhi, mengubah, memperbaiki atau mendorong perilaku, pikiran, perasaan/emosi orang
lain. Contoh Seorang guru memarahi seorang murid yang tidak melaksanakan tugas, tindakan guru itu menyentuh dan mempengaruhi perasaan murid sehingga perilakunya berubah. Seorang ibu atau anak menonton film di TV, pengaruh film itu meresap ke dalam pikirannya sehingga terjadi perubahan emosi, sikap, dan perilaku. Semua itu ada lah contoh tindakan sosial. Besar kecilnya pengaruh yang diterima oleh individu tergantung kepada sifat interaksinya.
 Menurut Astrid Susanto (1977) sifat interaksi sosial itu adalah:
1. Frekuensi interaksi, makin sering makin kenal dan makinbanyak pengaruhnya
2.  Keteraturan interaksi, semakin teratur, semakin jelas arah perubahannya
3.  Ketersebaran interaksi, semakin banyak dan tersebar, semakin banyak yang dipengaruhinya
4.  Keseimbangan interaksi, semakin seimbang posisi kedua belah pihak yang berinteraksi semakin besar pengaruhnya
5.  Langsung tidaknya interaksi, bila interaksi bersifat langsung kedua pihak, bersifat aktif, maka pengaruhnya semakin besar. 
Bila proses interaksi terus berlanjut sehingga menimbulkan perubahannya perubahan dalam struktur masyarakat, maka dapat menimbulkan proses sosial. Dan bila proses sosial inipun terus berlanjut dapat menyebabkan, perubahan sosial dan perubahan kebudayaan.
Ä Contoh seorang dokter yang berlatarbelakang budaya kota ditempatkan di sebuah desa. Dokter dan warga desa, berinteraksi, saling menyesuaikan diri Dokter terus berkomunikasi secara langsung baik per orang maupun perkelompok. Karena intensifnya komunikasi itu, Iama kelamaan terjadi perubahan kebiasaan di antara keduanya. Misalnya petani menjadi lebih tahu tentang cara hidup sehat. Perilakunya pun berubah misalnya membuang sampah pada tempatnya, makan makanan yang bergizi, berobat ke Puskesmas,dan sebagainya. Sekarang warga desa merasa  membutuhkan sarana kesehatan seperti: Puskesmas,dan Posyandu. membutuhkan sarana pendidikan; listrik; jalan, dan peralatan lainnya. Sebaliknya dokter pun mengalami perubahan perilaku misalnya tahu tentang cara bercocok tanam, senang berkebun, hidup bergotong-royong. Interaksi yang bersifat seimbang, terjadi antara dua individu yang posisinya sama atau setingkat seperti teman sekolah dan teman sepermainan akan Iebih besar pengaruh yang diterima oleh kedua belah pihak.
Ä  Interaksi sosial dapat menimbulkan:
1)Kerja sama (cooperation)
Kerja sama terjadi bila individu atau kelompok mempunyai kesadaran akan tujuan yang sama, sehingga timbul aktivitas yang saling menunjang, membantu untuk bersama-sama mencapai tujuan bersama
2) Persaingan (competition)
Persaingan adalah proses sosial di mana dua individu atau kelompok berusaha mencari sesuatu yang menjadi pusat perhatian masyarakat tanpa kekerasan atau ancaman. Misalnya dua orang siswa sama-sama memusatkan perhatian untuk memperoleh nilai IPS tertinggi
3) Pertikaian (conflict).
Pertikaian atau konflik adalah pertentangan antara individu atau kelompok,baik yang terlihat dengan jelas dan terbuka (misalnya dalam bentuk perkelahian) maupun tidak (misalnya hanya dalam sikap). Usaha untuk mencegah mengurangi. menghindari dan menghentikan pertentangan disebut akomodasi. Akomodasi dapat melalui paksaan  (coercion) seperti dua murid yang berkelahi diancam akan dikeluarkan kalau terus berkelahi. mempergunakan pihak ketiga, mempertemukan pihak yang berselisih untuk mencapai suatu persetujuan bersama.

























BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setiap orang dilahirkan sebagai makhluk individu. Individu adalah satu kesatuan utuh antara jasmani dan rohani. Setiap individu mempunyai ciri khas dan kebutuhan yang tersendiri. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, setiap individu membutuhkan individu lain. Karena itulah individu selalu hidup berkelompok membentuk masyarakat. Masyarakat adalah sejumlah orang yang hidup dalam suatu daerah saling berhubungan dan terikat satu sama lain, sehingga memiliki rasa solidaritas dan menghasilkan kebudayaan.Setiap individu dalam masyarakat mempunyai peran dan kedudukan yang berbeda. Setiap individu diharapkan dapat berperan sesuai dengan kedudukannya sehingga tercipta ketertiban, kenyamanan, kestabilan hidup bermasyarakat, yang akhirnya tujuan bersama dapat tercapai.

3.2 Saran
        Sehubungan dengan terselesainya hasil penulisan makalah ini. makalah ini masih belum sempurna dan perlu penyempurnaan.  penulis mengharap kritik dan saran dari pembaca dan menyarankan kepada para pembaca agar diadakan pengkajian lanjutan yang berjudul sama dengan makalah ini, agar ditemukan materi individu dan Negara yang jauh lebih baik lagi.








           

Daftar Pustaka

·                Astrid S. Susanto, (1977),  Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial Bandung:
·                Pengeran Alhaj, (1984),  Pendidikan Pancasila Modul 1-3, Jakarta Universitas Terbuka Depdikbud.
·                 Taneo SP, Individu Masyarakat dan Negara, dalam 221_kajian ips_9.0.pdf,diakses tgl 06 desember 2013
·                Abdul Aziz Wahab, dkk, Konsep Dsar IPS,jakarta: Universitas Terbuka,2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar