BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap orang dilahirkan
sebagai makhluk individu yang kemampuan
dan kebutuhan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Untuk memenuhi
kebutuhannya, ia tidak bisa berdiri sendiri, ia membutuhkan orang lain. Setiap
individu dalam masyarakat mempunyai kedudukan dan peranan yang berbeda,
sehingga memungkinkan untuk saling bekerja sama, saling membentuk, saling
mendukung untuk mencapai tujuan yang sama. Individu senantiasa berhubungan
dengan individu lainnya. Dalam melakukan hubungan tersebut mereka saling
pengaruh-mempengaruhi dan saling menyesuaikan diri sehingga timbul proses sosial. Proses sosial yang terus berlanjut
dan teratur akan menyebabkan perubahan sosial budaya dalam kelompok.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian individu dan masyarakat?
2.
Apa sajakah
Status dan Peran Individu dalam masyarakat?
3.
jelasakan apa Struktur, Pranata dan Proses
Sosial Budaya itu?
1.3 Tujuan masalah
1. Dapat
memahami pengertian individu dan masyarakat
2. Dapat mengetahui status dan peran individu
dalam bermasyarakat
3. Dapat memahami struktur,pranata dan proses
social budaya
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Individu dan Masyarakat
Setiap orang adalah
khas menjadi dirinya sendiri. Setiap orang dilahirkan sebagai makhluk individu,
individu merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyebut suatu
kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Untuk menyebut individu sering
digunakan sebutan “orang seorang” atau” manusia perseorangan” Sebagai individu,
manusia merupakan suatu sistem yang terdiri atas system jasmani dan system
rohani. Proses pembentukan individu menjadi pribadi dipengaruhi faktor
pembawaan dan faktor lingkungan. Faktor pembawaan yang dia miliki berupa
potensi fisik-biologis dan potensi mental psikologis. Kedua potensi ini dibawa
seseorang sejak lahir, faktor lingkungan pun memberikan pengaruh besar bagi
perkembangan pribadi seseorang. Jika Anda perhatikan secara seksama, apakah ada
manusia sebagai individu yang bisa hidup sendiri sejak lahir tanpa ada bantuan
manusia lainnya. Tentu jawabannya tidak. Manusia membutuhkan pertolongan orang
lain untuk bisa bertahan hidup. Manusia sudah besar atau dewasapun, tidak bisa mencukupi semua kebutuhan hidupnya
oleh diri sendiri. Ia membutuhkan orang lain dengan saling ketergantungan, jadi
seorang manusia berkedudukan bukan hanya sebagai makhluk individu, melainkan
juga sebagai makhluk sosial karena individu hidup dalam suatu masyarakat, baik
dalam lingkungan masyarakat kecil maupun masyarakat luas.
Masyarakat
adalah setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama
sehingga mereka dapat mengetahui diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai
satu kesatuan.
A. Individu
1.Manusia selaku individu.
Individu
adalah seseorang atau seorang manusia secara utuh, Utuh di sini diartikan
sebagai suatu sifat yang tidak dapat dibagi-bagi. Merupakan satu kesatuan antara jasmaniah dan rohaniah
yang melekat pada diri seseorang. Setiap individu mempunyai ciri khas yang
berbeda dengan individu lainnya, seperti
bentuk fisik, kecerdasan, bakat, keinginan, perasaan dan memiliki tingkat
pemahaman atau arti tersendiri terhadap suatu objek. Jadi individu adalah
kondisi internal dari seorang manusia yang berfungsi sebagai subjek.
Manusia selaku individu
mempunyai 3 naluri yaitu:
a. Naluri untuk mempertahankan kelangsungan
hidup
b. Naluri untuk mempertahankan kelanjutan
penghidupan keturunan dan
c. Naluri
ingin tahu dan mencari kepuasan.
a) Naluri mempertahankan kelangsungan
hidup
Naluri untuk
mempertahankan hidup telah menimbulkan berbagai kebutuhan. Salah satu kebutuhan
yang paling mendasar adalah kebutuhan fisiologis yang terdiri dari makan,minum
dan perlindungan. Semua kebutuhan tersebut didapat dari lingkungan di mana
manusia tinggal, dan dalam memanfaatkan lingkungan tersebut membutuhkan
teknologi. Teknologi dapat diartikan sebagai cara-cara atau alat yang
dipergunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi teknologi tidak
hanya mencakup peralatan modern atau mesin saja. Panah untuk berburu, bertani
berpindah-pindah dan alat atau cara sederhana lain termasuk ke dalam teknologi
Kebutuhan manusia sangat beragam dan
kebutuhan ini lebih mudah dipenuhi kalau individu hidup berkelompok dengan
individu lainnya.
a)
Naluri
mempertahankan kelanjutan penghidupan keturunan
Naluri untuk mempertahankan
keturunan, menuntut adanya kebutuhan akan rasa aman (safety need) baik dari
gangguan cuaca yang tidak nyaman binatang liar atau manusia lain. Pakaian yang
dibuat dari berbagai jenis bahan dan model disesuaikan dengan kondisi cuaca.
Perumahan dengan bermacam-macam bahan dan juga bentuk, pada dasarnya adalah
usaha untuk memperoleh rasa aman dari berbagai gangguan. Adapun keanekaragaman
bahan dan model yang dipergunakan sangat tergantung pada lingkungan. Seperti
rumah di daerah tropis umumnya dibuat dari kayu atau bambu dengan model atap
segitiga atau kerucut dan seringkali bawahnya tidak langsung menyentuh tanah,
tapi bertonggak atau berkolong. Di iklim sedang rumah banyak dibangun dari bata
atau tanah, atapnya rata atau datar, sedangkan di daerah dingin orang Eskimo
membuat rumah dari es dengan bentuknya yang bulat saja. Semua itu sangat
tergantung pada Cuaca yang ada di lingkungannya. Perkawinan selain untuk
memenuhi kebutuhan biologis manusia, juga merupakan cerminan dari adanya
ketergantungan individu terhadap individu lain dan adanya naluri untuk
meneruskan keturunan.
b)
Naluri ingin tahu dan mencari kepuasan
Setiap manusia
mempunyai naluri untuk ingin tahu tentang sesuatu yang ada di sekitarnya, baik
itu lingkungan alam maupun lingkungan manusia lainnya. Adanya perbedaan alam
seperti dataran, perbukitan, pegunungan.perbedaan penyebaran tumbuhan dan
hewan.perbedaan fisik manusia seperti ada yang berkulit hitam, putih sawo
matang, berbadan jangkung, pendek dan sebagainya perbedaan budaya manusia seperti
dalam hal cara makan ada yang makan pakai tangan, sendok, sendok garpu dan
pisau.perbedaan dalam berpakaian. mata pencaharian. bentuk rumah dan
sebagainya. Semua itu telah mendorong manusia untuk mencari tahu Pertanyaan
“apa, mengapa, bagaimana dan siapa” sehingga menghasilkan sistem pengetahuan.
yang kemudian disusun menjadi sistematis melalui aturan-aturan tertentu
sehingga melahirkan ilmu pengetahuan. ilmu pengetahuan ini pada dasarnya adalah
untuk memenuhi kebutuhan spiritual atau batin manusia. Sedangkan penerapan ilmu
pengetahuan dalam bentuk cara dan alat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia
disebut teknologi. Jaditeknologi adalah berbagai cara atau alat untuk memenuhi
kebutuhan material manusia. Keduanya tidak dapat dipisahkan untuk menunjang dan
memenuhi kebutuhan manusia baik selaku individu maupun masyarakat. Ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dimiliki individu tidak seluruhnya hasil dari
pengalaman sendiri, tapi lebih banyak dari belajar dan meniru dari orang lain.
Karena itu dalam memenuhi naluri ingin tahu darimencari kepuasanpun tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan kelompok.
2. Manusia
selaku makhluk sosial
Walaupun individu adalah satuan yang berdiri sendiri dan memiliki kemampuan
serta kebutuhan yang tersendiri pula, namun dalam usaha memenuhi kebutuhan dan
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya tidak dapat sendiri. Ia
selalu membutuhkan individu lain. Ketergantungan individu terhadap individu
lain sangat tinggi. Sejak ia dilahirkan sampai meninggal membutuhkan bantuan
orang lain. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat dengan segera menyesuaikan
diri dengan lingkungannya. manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk
dapat berdiri dan mencari makan sendiri. .Pada masa bayi sepenuhnya manusia
tergantung kepada individu lain. Ia belajar berjalan, belajar makan, belajar
berpakaian belajar membaca, belajar membuat sesuatu dan sebagainya, memerlukan
bantuan orang lain yang lebih dewasa. Semakin sering dan rajin belajar semakin
berkembang kemampuannya. Semakin pintar, ketergantungan individu terhadap
seseorang semakin berkurang, tapi bukan berarti tidak membutuhkan orang lain.
Karena sepintar apa pun manusia pada dasarnya tidak bisa memenuhi segala
kebutuhan dengan cara memproduksi sendiri. Misalnya dia pandai bertani
menghasilkan padi, tapi tidak bisa membuat baju, membuat rumah, atau peralatan
lain Padahal ia membutuhkan kain baju, minuman, perumahan dan alat lainnya.
Dengan kepandaiannya itu ia menjual dan membeli keperluan hidupnya dari orang
lain. Timbul pertukaran barang dan jasa.
Berarti dalam kehidupan manusia saling tergantung antara individu yang satu
dengan individu yang lainnya.
Malinowski (1949), salah seorang tokoh ilmu Antropologi dari Polandia
menyatakan bahwa ketergantungan individu terhadap individu lain dalam kelompoknya
dapat terlihat dari usaha-usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan biologis dan
kebutuhan sosialnya yang dilakukan melalui perantaraan kebudayaan. Seperti
manusia membutuhkan makanan,
maka ia memerlukan pengetahuan tentang alat-alat yang dipergunakan untuk
memperoleh makanan. Dalam hal ini sistem pengetahuan diperlukan. Sistem
pengetahuan ini tidak seluruhnya hasil pengalaman sendiri, tapi perlu pula
belajar dan mencontoh atau meniru dari orang lain yang lebih dulu tahu
Kemampuan meniru dan belajar ini adalah kemampuan khas manusia yang tidak
dimiliki oleh makhluk lain. Dengan belajar dan meniru, ia dapat menghasilkan
berbagai alat yang berdaya guna dan berhasil guna tinggi.
Manusia adalah makhluk
sosial. Sosial berasal dari kata socius yang artinya kawan. Dalam hidup dan
perkembangannya, baik langsung ataupun tidak, manusia membutuhkan karya dan
jasa orang lain. Manusia mempunyai emosi atau perasaan dan perasaan ini perlu
ditanggapi atau direspon oleh orang lain. Seperti rasa suka, duka, senang, disukai,
rasa memiliki, kasih sayang, marah, dan sebagainya. Manusia baru mempunyai
makna atau arti dalam hidup kalau Ia hidup berkelompok dengan orang lain.
B.
Masyarakat
1. Pengertian Masyarakat
Masyarakat, dalam
Bahasa Inggris disebut society artinya sekelompok manusia yang hidup bersama,
saling berhubungan dan mempengaruhi, saling terikat satu sama lain. Pengertian
sekelompok manusia di sini, tidak mempunyai batas yang jelas harus berapa orang
tapi jumlahnya minimal harus 2 orang.
Ralph Linton (1957) seorang
ahli antropologi, mengartikan masyarakat sebagai kelompok manusia yang telah
hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka
sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang telah dirumuskan dengan
jelas. Selanjutnya Selo Sumardjan seorang sosiolog Indonesia mengartikan
masyarakat sebagai orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
Anderson dan Parker
(Astrid Susanto 1977) menyebutkan secara rinci bahwa masyarakat adalah sebagai
berikut.
1)
Adanya sejumlah orang.
2)
Tinggal dalam suatu daerah tertentu.
3)
Mengadakan hubungan satu sama lain.
4)
Saling terikat satu sama lain karena mempunyai kepentingan bersama.
5)
Merupakan suatu kesatuan sehingga mereka mempunyai perasaan
solidaritas.
6)
Adanya saling ketergantungan.
Dari pengertian di atas
dapat disimpulkan bahwa masyarakat
merupakan kumpulan individu-individu
yang telah cukup bergaul
mengikuti tata cara yang sama sehingga
merupakan satu kesatuan.
Ä Berdasarkan
tempat tinggal kita mengenal masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan.
Perbedaan antara perkotaan dan pedesaan dapat dilihat dari:
1)
Penggunaan lahan:
a) Pedesaan :
sebagian besar untuk pertanian
b) Perkotaan:
sebagian besar untuk bangunan
2)
Jumlah dan kepadatan penduduk:
a) Pedesaan : relatif sedikit dan jarang
kepadatannya.
b) Perkotaan : penduduknya banyak dan
kepadatannya tinggi.
3)
Pendidikan dan keterampilan penduduk:
a) Pedesaan : relatif rendah dan sama.
b) Perkotaan : relatif tinggi, keterampilan beragam.
4)
Kontak sosial
a) Pedesaan
: bersifat langsung (face to
face) dan terbatas.
b) Perkotaan :
banyak yang bersifat tidak langsung dan tinggi.
5) Hubungan sosial
a) Pedesaan : primer artinya akrab,saling
mengenal/silaturrahmi
b) Perkotaan : sekunder artinya berdasarkan kepentingan
Menurut Soejono
Soekanto (1987) beberapa ciri masyarakat perkotaan yang menonjol adalah:
1)
kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan pedesaan Hal ini
disebabkan adanya cara berpikir yang rasional
2)
pembagian kerja lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata
3)
kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan lebih banyak diperoleh dari pada
warga desa
4)
jalan pikiran yang rasional menyebabkan interaksi sosial berdasar
kepentingan dari pada faktor pribadi.
2.2 Status dan Peran Individu dalam masyarakat
Setiap individu dalam masyarakat
mempunyai peran dan kedudukan (status) yang berbeda. Mengingat setiap individu
mempunyai kepentingan yang beragam, maka setiap individu dapat berstatus dan
berperan di beberapa kelompok sesuai dengan
kepentingannya itu. Contoh dalam
keluarga terdapat ayah, ibu dan anak. Ayah mempunyai status sebagai kepala
rumah tangga, karena itu ia dituntut untuk berperan sebagai pemimpin dalam
rumah, seperti ayah bagi anak-anak, pencari nafkah dan seperangkat perilaku
lainnya yang melekat dengan sifat ayah yang baik. Di kantor, ayah berfungsi
sebagai karyawan biasa, berarti Ia mempunyai pemimpin dan ayah harus taat dan
patuh terhadap aturan-aturan yang dibuat oleh pimpinan kantornya. Selain itu
ayah di masyarakat berstatus pula sebagai ketua RW berarti ia harus membimbing,
mengarahkan, membina setiap warga RW yang dipimpinnya.
Setiap individu harus
berperilaku atau berperan sesuai dengan
Kedudukannya.Dalam kehidupan sehari-hari
setiap orang mempunyai peran dan tugas yang berbeda. Tugas seorang dokter
berbeda dengan guru, petani, supir atau ABRI. Tapi masing-masing saling
membutuhkan, saling bekerja sama untuk capai tujuan yang sama yaitu
terpenuhinya kebutuhan dan mencapai kesejahteraan. Dengan Demikian peran dan
kedudukan sangat penting untuk menjaga keseimbangan dan integritas sosial.
Contohnya bila guru, petani, dokter tidak melaksanakan peranannya dengan baik,
maka akan terjadi
penyimpangan dan goncangan-goncangan
yang dapat mengganggu kestabilan hidup bermasyarakat.
§ Kedudukan
seseorang dalam masyarakat ada 2 macam:
1) Ascribed
status, yaitu kedudukan yang diperoleh tanpa melalui perjuangan atau usaha sendiri. Biasanya
diperoleh melalui kelahiran, seperti seorang anak yang bergelar raden, otomatis
anaknya juga bergelar raden. Status ini sering pula disebut sebagai status yang
tertutup, karena setiap orang tidak bisa menjadi anggota secara bebas.
Perkawinan biasanya adalah cara untuk masuk ke dalam status ini.
2) Achieved status, yaitu kedudukan yang
diperoleh melalui usaha atau perjuangan sendiri. Seseorang menjadi Direktur
sebuah perusahaan karena memang ia rajin dan ulet. Status ini bersifat
terbuka
artinya setiap orang dapat mencapainya atau meraihnya karena kemampuan
masing-masing individu dalam berprestasi.
Ø
Selain 2 macam kedudukan tersebut, ada
juga kedudukan yang diberikan pada seseorang karena jasa-jasanya, yaitu:Assigned-Status.Setiap status dan
kedudukan mempunyai seperangkat simbol atau lambang yang dapat mencerminkan
statusnya. Seperti orang yang berstatus ekonomi tinggi tercermin dari bentuk
dan luas rumah, seseorang dari golongan ningrat akan tampak dari cara berbicara
dan sopan santunnya. Banyak simbol yang dapat mencerminkan status atau
kedudukan seseorang dalam masyarakat. Dengan demikian status dapat disebabkan
oleh posisinya dalam pekerjaan dan pendidikan.
2.3
Struktur, Pranata dan Proses Sosial Budaya
Masyarakat merupakan
suatu sistem hidup bersama dimana mereka menciptakan nilai, norma, dan kebudayaan
bagi kehidupan mereka.
A. Struktur Sosial Budaya
masyarakat merupakan
suatu sistem sosial budaya, artinya terdiri dari sejumlah orang yang
berhubungan secara timbal balik melalui budaya tertentu. Mereka saling pengaruh
mempengaruhi dengan mempergunakan norma yang sama untuk mencapai tujuan yang
sama pula. Sistem terdiri dari berbagai unsur, komponen atau perilaku yang
saling terkait satu sama lain sehingga membentuk satu kesatuan.Pola perilaku
dari setiap individu dalam masyarakat yang bersusun sebagai suatu sistem
disebut struktur social. Struktur asal kata dari structum yang artinya menyusun
membagi atau mendirikan. Contoh di sekolah terdapat struktur sebagai berikut
ada kepala sekolah, guru-guru, murid, pegawai administrasi, dan penjaga
sekolah. Semua orang yang ada di
sekolah tersebut saling berinteraksi,
saling berhubungan dan saling mempengaruhi
sehingga sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat berfungsi dengan
baik. Kalau salah satu unsur dari
sekolah tersebut tidak ada misalnya guru, maka proses pendidikan tidak dapat
berjalan dengan baik. Di sekolah juga mempunyai norma, misalnya murid harus
datang pukul 7.00, harus memakai seragam dan sepatu yang telah ditentukan, dan
sebagainya.
Dalam sistem sosial
selalu berhubungan dengan peran dan kedudukan (status). Kepala sekolah, guru,
murid dan pegawai administrasi di atas, mempunyai kedudukan yang berbeda,
karena itu tugas dan peran yang harus dilakukannya pun berbeda pula, tetapi
merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dalam memperlancar proses belajar
mengajar di sekolah. Setiap individu mempunyai ciri dan kemampuan tersendiri
seperti, bentuk fisik, bakat, minat kemampuan berpikir dan berkarya. Perbedaan
ini menyebabkan timbulnya perbedaan social. Perbedaan sosial bersifat universal
artinya dimiliki oleh setiap masyarakat dimanapun. Hanya bentuk dan derajatnya saja yang
berbeda. Selain itu perbedaan sosial dapat pula disebabkan oleh perbedaan agama
seperti Islam, Kristen, Hindu, dan Budha; perbedaan suku seperti suku Sunda,Batak,
Minangkabau dan sebagainya.
Perbedaan-perbedaan
yang ada di masyarakat seringkali menunjukkan lapisan-lapisan yang bertingkat.
Lapisan-lapisan yang bertingkat ini disebut dengan stratifikasi sosial. Ukuran
yang dipergunakan untuk menggolongkan penduduk dalam lapisan-lapisan tertentu
adalah:
1)
Ukuran kekayaan, timbul golongan kaya atau ekonomi kuat, golongan miskin
atau ekonomi lemah, dan golongan tengah atau sedang. Pada masyarakat petani,
luas pemilikan lahan menjadi ukuran utama timbul tuan tanah, penyewa dan buruh
tani. Pada masyarakat seringkali tampak
dalam kekayaan berupa material seperti luas dan bentuk rumah, mobil, pakaian,
dan gaya hidup.
2)
Ukuran kekuasaan, timbul golongan penguasa dan yang dikuasai. Mereka
yang termasuk kelompok penguasa menjadi kelompok teratas dan biasa wewenangnya
pun menjadi Iebih tinggi.
3)
Ukuran kehormatan, timbul golongan yang berpengaruh dan dihormati dan
golongan yang terpengaruh biasanya ukuran ini umumnya terdapat pada masyarakat
tradisional, di mana pimpinan informal masyarakat mendapatkan kedudukan yang
tinggi di masyarakat, seperti para Kyai, kepala adat dan sebagainya.
4)
Ukuran ilmu pengetahuan: timbul golongan cendekiawan dan masyarakat
biasa. Dalam hal ini yang menjadi ukuran adalah kepintaran atau kemampuan menyelesaikan
jenjang pendidikan tertentu, seperti seorang sarjana lebih dihargai daripada
yang berpendidikan SMA, atau yang berpendidikan SMA lebih dihargai daripada SD.
Seorang individu
mungkin saja memiliki beberapa peluang sehingga semakin memperkokoh dia berada
dalam lapisan tertentu. Misalnya seorang penguasa memungkinkan ia untuk
mempunyai kekayaan yang banyak dan memungkinkan pula untuk sekolah ke jenjang
yang paling tinggi. Sehingga ia mempunyai beberapa ukuran yang dapat
memperkokoh kedudukannya dalam lapisan teratas. Sebaliknya orang yang tidak
mempunyai pengetahuan, sulit untuk
mendapatkan pekerjaan yang berpendapatan
besar, apalagi menjadi penguasa, sehingga ia miskin. Dengan demikian ukuran
pelapisan sosial dapat sifat tunggal, dapat pula bersifat jamak. Dasar dari
pelapisan sosial di atas dapat timbul dan berkembang secara otomatis atau tidak
disengaja oleh masyarakat. Selain itu ada pula pelapisan sosial yang memang
sengaja dibuat. Misalnya dalam organisasi, perusahaan instansi pemerintah dibuat
strata-strata. Ada ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, ketua seksi, dan
anggota. Penyusunan ini dibuat dengan maksud:
1)
Mengatur tugas dan wewenang.
2) untuk
mendorong meningkatkan produktivitas karena setiap Individu ditempatkan pada
posisi yang sesuai dengan keterampilan dan keahliannya.
3)
Lebih memudahkan pencapaian tujuan bersama.
Dengan demikian
pelapisan sosial selalu berkaitan dengan peranan dan kedudukan seseorang dalam
masyarakat. Setiap orang diharapkan berperan sesuai dengan kedudukannya
sehingga timbul kerja sama yang saling menguntungkan. Karena itu pula maka
pelapisan sosial diperlukan selama hak dan kewajiban setiap orang dalam tiap
lapisan diterima secara seimbang dan adil.
Ada dua sifat pelapisan
sosial yang berkembang di masyarakat.
1)
Bersifat tertutup (closes social stratification) yaitu tiap anggota
tidak
dimungkinkan untuk pindah lapisan baik
ke atas maupun ke bawah. Satu-satunya jalan untuk masuk ke dalam lapisan ini
adalah melalui kelahiran dan perkawinan. Contoh lapisan tertutup ini adalah
sistem kasta.
2)
Bersifat terbuka (oven social stratification) setiap anggota
masyarakat mempunyai kesempatan untuk
masuk dan keluar pada tiap lapisan. Contoh berdasarkan kekayaan dan kekuasaan.
B. Pranata sosial budaya
Pranata sosial berasal
dari istilah Inggris social institution Istilah
social institution ini
diterjemahkan secara berbeda-beda oleh para ahli ilmu sosial di Indonesia, ada
yang mengartikannya sebagai lembaga kemasyarakatan (Selo Soemardjan dan Soemardi,
1964; Soerjono Soekanto, 1982), pranata sosial (Koentjaraningrat, 1985).
Istilah yang akan digunakan di sini adalah pranata sosial, karena social institution menunjuk pada adanya unsur-unsur yang
mengatur perilaku para
anggota masyarakat.
Menurut Koentjaraningrat
pranata sosial adalah satu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat
kepada. aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus
dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto (dengan
menggunakan istilah lembaga kemasyarakatan) adalah himpunan dari norma-norma
dari segala tindakan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam
kehidupan masyarakat.
Pranata sosial dalam
pengertian ilmu sosial tidaklah sama persis dengan istilah lembaga dalam arti wadah
atau badan. Pranata sosial pada dasarnya bermula dari adanya
kebutuhan-kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi. Pemenuhan-pemenuhan kebutuhan
tersebut perlu dalam keteraturan, sehingga akhirnya diperlukan adanya
norma-norma yang menjamin keteraturan tersebut. Norma-norma tersebut akhirnya
berkembang menjadi pranata sosial, yang pada dasarnya diciptakan untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan manusia itu.
Kebutuhan manusia sangatlah beraneka
ragam, sehingga pranata sosial yang mendukungnya pun beraneka ragam pula. Manusia
juga memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan Tuhannya, maka lahirlah
pranata agama. Pranata-pranata yang ada di bidang agama ini misalnya Mesjid,
zakat, wakaf, gereja, dan sebagainya. Kebutuhan manusia lainnya, misalnya di
bidang pendidikan, maka melahirkan pranata pendidikan yang dapat berwujud dalam
bentuk sekolah dasar, sekolah lanjutan, sekolah menengah, universitas, pondok
pesantren, madrasah, dan sebagainya. Kebutuhan untuk mendapatkan dan
mendistribusikan barang (sandang, pangan, jasa, dll) merupakan dasar bagi
lahirnya pranata ekonomi. Kebutuhan di bidang politik akan melahirkan pranata
politik yang berkaitan dengan pengaturan penggunaan kekuasaan. Pranata politik
ini akan berkaitan dengan pranata negara, pemerintah, parlemen, desa dan
sebagainya.
Dari uraian di atas,
anda dapat menemukan beberapa contoh pranata sosial, misalnya : pranata
keluarga, pranata agama, pranata ekonomi, pranata pendidikaan pranata politik,
dan sebagainya. Banyaknya pranata sosial dalam masyarakat tergantung dari
Kompleksitas masyarakat. Semakin kompleks suatu masyarakat, maka semakin banyak
kebutuhannya, berarti semakin banyak pula pranata sosialnya. Fungsi pranata
sosial yang dibentuk oleh masyarakat dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan pokok manusia, mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut:
1)
Memberikan pedoman pada anggota-anggota masyarakat bagaimana mereka
harus bertingkah laku atau bersikap di dalam menghadapi masalah-masalah dalam
masyarakat yang bersangkutan
2)
Menjaga keutuhan dari masyarakat yang bersangkutan
3)
Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem
pengendalian sosial (social control) yaitu sistem pengawasan dari masyarakat
terhadap tingkah laku anggota-anggotanya.
C. Proses sosial budaya
Manusia senantiasa
saling berhubungan dengan manusia lain atau melakukan kontak sosial. Hubungan
antarindividu yang saling mempengaruhi dalam hal pengetahuan, sikap dan
perilaku disebut interaksi sosial. Interaktif sosial dapat terjadi
antarindividu, individu dengan kelompok, dan antarkelompok. Dua orang yang
saling bercakap-cakap adalah contoh interaksi antara individu dengan
individu. Guru sedang mengajar di depan
kelas adalah contoh interaksi individu dengan kelompok, sedangkan dua kelompok
siswa sedang berdiskusi adalah contoh interaksi kelompok dengan kelompok.
Komunikasi tidak selamanya dalam bentuk langsung atau tatap muka (face to face)
seperti berbicara atau bersalaman. Ada pula komunikasi tidak langsung yaitu
melalui perantara seperti surat, telepon, surat kabar, televisi atau radio.
Perantara itu disebut sebagai media
komunikasi. Jadi interaksi sosial
terjadi apabila tindakan atau perilaku seseorang dapat mempengaruhi, mengubah,
memperbaiki atau mendorong perilaku, pikiran, perasaan/emosi orang
lain. Contoh Seorang guru memarahi
seorang murid yang tidak melaksanakan tugas, tindakan guru itu menyentuh dan
mempengaruhi perasaan murid sehingga perilakunya berubah. Seorang ibu atau anak
menonton film di TV, pengaruh film itu meresap ke dalam pikirannya sehingga terjadi
perubahan emosi, sikap, dan perilaku. Semua itu ada lah contoh tindakan sosial.
Besar kecilnya pengaruh yang diterima oleh individu tergantung kepada sifat
interaksinya.
Menurut Astrid Susanto (1977) sifat interaksi
sosial itu adalah:
1. Frekuensi interaksi, makin sering
makin kenal dan makinbanyak pengaruhnya
2.
Keteraturan interaksi, semakin teratur, semakin jelas arah perubahannya
3.
Ketersebaran interaksi, semakin banyak dan tersebar, semakin banyak yang
dipengaruhinya
4.
Keseimbangan interaksi, semakin seimbang posisi kedua belah pihak yang
berinteraksi semakin besar pengaruhnya
5.
Langsung tidaknya interaksi, bila interaksi bersifat langsung kedua
pihak, bersifat aktif, maka pengaruhnya semakin besar.
Bila proses interaksi
terus berlanjut sehingga menimbulkan perubahannya perubahan dalam struktur
masyarakat, maka dapat menimbulkan proses sosial. Dan bila proses sosial inipun
terus berlanjut dapat menyebabkan, perubahan sosial dan perubahan kebudayaan.
Ä Contoh
seorang dokter yang berlatarbelakang budaya kota ditempatkan di sebuah desa.
Dokter dan warga desa, berinteraksi, saling menyesuaikan diri Dokter terus
berkomunikasi secara langsung baik per orang maupun perkelompok. Karena
intensifnya komunikasi itu, Iama kelamaan terjadi perubahan kebiasaan di antara
keduanya. Misalnya petani menjadi lebih tahu tentang cara hidup sehat. Perilakunya
pun berubah misalnya membuang sampah pada tempatnya, makan makanan yang bergizi,
berobat ke Puskesmas,dan sebagainya. Sekarang warga desa merasa membutuhkan sarana kesehatan seperti:
Puskesmas,dan Posyandu. membutuhkan sarana pendidikan; listrik; jalan, dan
peralatan lainnya. Sebaliknya dokter pun mengalami perubahan perilaku misalnya
tahu tentang cara bercocok tanam, senang berkebun, hidup bergotong-royong.
Interaksi yang bersifat seimbang, terjadi antara dua individu yang posisinya
sama atau setingkat seperti teman sekolah dan teman sepermainan akan Iebih
besar pengaruh yang diterima oleh kedua belah pihak.
Ä Interaksi
sosial dapat menimbulkan:
1)Kerja sama (cooperation)
Kerja
sama terjadi bila individu atau kelompok mempunyai kesadaran akan tujuan yang
sama, sehingga timbul aktivitas yang saling menunjang, membantu untuk
bersama-sama mencapai tujuan bersama
2) Persaingan (competition)
Persaingan
adalah proses sosial di mana dua individu atau kelompok berusaha mencari
sesuatu yang menjadi pusat perhatian masyarakat tanpa kekerasan atau ancaman.
Misalnya dua orang siswa sama-sama memusatkan perhatian untuk memperoleh nilai
IPS tertinggi
3) Pertikaian (conflict).
Pertikaian
atau konflik adalah pertentangan antara individu atau kelompok,baik yang
terlihat dengan jelas dan terbuka (misalnya dalam bentuk perkelahian) maupun
tidak (misalnya hanya dalam sikap). Usaha untuk mencegah mengurangi.
menghindari dan menghentikan pertentangan disebut akomodasi. Akomodasi dapat
melalui paksaan (coercion) seperti dua
murid yang berkelahi diancam akan dikeluarkan kalau terus berkelahi. mempergunakan
pihak ketiga, mempertemukan pihak yang berselisih untuk mencapai suatu persetujuan
bersama.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setiap orang dilahirkan
sebagai makhluk individu. Individu adalah satu kesatuan utuh antara jasmani dan
rohani. Setiap individu mempunyai ciri khas dan kebutuhan yang tersendiri. Dalam
memenuhi kebutuhan tersebut, setiap individu membutuhkan individu lain. Karena
itulah individu selalu hidup berkelompok membentuk masyarakat. Masyarakat
adalah sejumlah orang yang hidup dalam suatu daerah saling berhubungan dan
terikat satu sama lain, sehingga memiliki rasa solidaritas dan menghasilkan
kebudayaan.Setiap individu dalam masyarakat mempunyai peran dan kedudukan yang
berbeda. Setiap individu diharapkan dapat berperan sesuai dengan kedudukannya
sehingga tercipta ketertiban, kenyamanan, kestabilan hidup bermasyarakat, yang
akhirnya tujuan bersama dapat tercapai.
3.2 Saran
Sehubungan dengan terselesainya hasil
penulisan makalah ini. makalah ini masih belum sempurna dan perlu
penyempurnaan. penulis mengharap kritik
dan saran dari pembaca dan menyarankan kepada para pembaca agar diadakan
pengkajian lanjutan yang berjudul sama dengan makalah ini, agar ditemukan
materi individu dan Negara yang jauh lebih baik lagi.
Daftar Pustaka
·
Astrid S. Susanto, (1977), Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial
Bandung:
·
Pengeran Alhaj, (1984), Pendidikan Pancasila Modul 1-3, Jakarta
Universitas Terbuka Depdikbud.
·
Taneo SP, Individu Masyarakat dan Negara, dalam
221_kajian ips_9.0.pdf,diakses tgl 06 desember 2013
·
Abdul
Aziz Wahab, dkk, Konsep Dsar IPS,jakarta: Universitas Terbuka,2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar